Asal Muasal Pembuatan Garam di Madura

 

Madura pulau yang Indah juga di kenal dengan sebutan Pulau Garam, hal ini dikarenakan Kualias Garam di Madura memang sangat Bagus dan sangat dikenal di dunia, dan Garam banyak dihasilkan dari kawasan Timur Pulau Madura. Membuat garam, meskipun mengalami pasang surut secara ekonomi karena harga yang beruba-ubah merupakan mata pencaharian yang masih dijalani masyarakat Madura.



Bicara soal Garam tak luput dari Legenda Syekh Anggasuto yang hendak menyiarkan agama Islam di Sumenep. Penyebaran agama pada waktu itu tentu tidak seperti sekarang yang menggunakan teknologi media. Pada masa itu, seorang ulama harus menemukan cara yang tepat untuk memikat hati masyarakat agar mau memeluk agama Islam.


Setelah memanjatkan doa kepada Allah SWT, Beliau mendapatkan lamat (petunjuk) untuk menyusuri pinggir pantai di Pinggirpapas, Sumenep. Saat berjalan itulah, Syekh Anggosuto menemukan bekas telapak kakinya yang sudah dipenuhi oleh kristal-kristal garam yang sangat menarik perhatiannya.

Penemuan garam inilah yang kemudian ia jadikan sebagai cara berdakwah kepada masyarakat. Ia mulai mengajarkan cara pembuatan garam sekaligus mengajarkan ajaran-ajaran Islam di sela sela kegiatan tersebut. Dengan metode itulah dakwah Islam bisa menyebar luas. Oleh Syekh Anggosuto, pembuatan garam diperluas dengan membuat petak-petak yang akan diisi dengan air laut sebagai bahan utama garam. Alat-alat yang digunakan pada waktu itu adalah rabunan, centeng, dan pakem.
  1. Rabunan adalah alat semacam kukusan nasi yang bagian atasnya melebar dan bagian bawahnya agak mengecil serta berguna untuk mengalirkan dan menyaring air laut.
  2. Canteng adalah wadah yang dibuat dari tempurung kelapa untuk menaikkan air laut.
  3. Pakem merupakan sendok besar terbuat dari kayu yang dihaluskan dan tangkaiannya agak mengecil untuk mengumpulkan garam.

Pada perkembangannya digunakan alat-alat yang lebih memadai dan bisa meningkatkan produksi garam, seperti bejug/senggut, sorkot, pak tepak, kancor/skop, gulu', Raca, renjing dan rempah pala atau kemiri. 

1. Bejug/senggut adalah yang digunakan untuk memindahkan air, dari kanal-kanal ke petak-petak dengan menggunakan kincir angin.


2. Pak tepak adalah alat untuk meratakan garam ke karung.
3. Gulu’ adalah alat untuk memadatkan tanah petak berupa silinder kecil terbuat dari kayu yang dirangkaikan dengan tangkai kayu sebagai pegangan. Supaya tidak lengket, bagian tangkai dibungkus dengan plastik.


4. Raca merupakan alat untuk meratakan atau membolak balik garam, terbuat dari kayu yang diberi beberapa paku dengan jarak tertentu, dan bergerigi dengan tangkai kayu.
5. Renjing adalah wadah terbuat dari bambu dan berguna untuk mengangkut garam.


6. pala/kemiri digunakan untuk mengetahui salinitas garam.

Cara produksi garam cukup sederhana. Hanya dengan mengalirkan air laut ke dalam tambak-tambak dengan bantuan kincir angin. Air laut dalam tambak itulah yang kemudian dijemur menggunakan panas matahari untuk menguapkan airnya dan meninggalkan kristasl garamnya. Kristal garam yang mengendap kemudian di panen menggunakan garuk dan dikeruk ke pinggir tambak.

Untuk memperingati dan mengenang kembali riwayat hidup nenek moyangnya, mereka berziarah ke makam Syekh Anggosuto yang telah dikeramatkan. Dan setiap tahun mereka mengadakan upacara peringatan. Upacara peringatan itu disebut NYADAR (upacara tradisional Hindu-Budha yang ada di Madura).

Versi lain mengatakan Pada Abad ke-15 menjadi awal mula dari pembuatan garam di Madura. Kisah ini di mulai dari tentara Bali yang datang ke Pulau Madura, maksud kedatangannya untuk membalas dendam kepada keturunan Jokotole. Tentara Bali tersebut berlabuh di pantai Sumenep.

Jokotole ialah seorang pahlawan Madura yang gagah berani, yang telah berhasil menaklukkan raja Blambangan pada waktu ia berperang melawan Majapahit. Namun tentara Bali yang menganggap raja Blambangan itu nenek moyangnya, dapat dikalahkan oleh orang-orang Madura.

Bala tentara Bali yang masih hidup melarikan diri ke desa Pinggir Papas (Gir Papas, menurut orang Madura). Desa ini terletak diantara kota Sumenep dan Kalianget. Kira-kira enam kilometer dari kota Sumenep. Di desa Pinggir Papas inilah bala tentara Bali itu menyerah kepada raja Sumenep, yakni Pangeran Wetan. Oleh Raja Sumenep mereka diampuni dan mendapat tanah untuk membangun desa. Diantara tentara Bali tersebut ada seorang panglima perang, bernama Anggosuto. Panglima perang inilah yang pertama kali mempunyai pikiran untuk membuat garam dari air laut yang dijemur.

Pembuatan garam berkembang pesat di desa Pinggir Papas. Bahkan lama-kelamaan menjadi sumber penghasilan bagi penduduk desa Pinggir Papas.  Tidak hanya di Pinggir Papas saja, namun di daerah-daerah lainnya sampai saat ini pembuatan garam terus berlangsung di Madura dan telah menjadi pekerjaan tetap bagi masyarakat Madura. Dan Tradisi pembuatan kristal putih dari samudera itu telah mengalir dalam darah petani garam.

No comments:
Write komentar

>> Silahkan Tinggalkan Komentar Anda
>> ------------------------------------------------ <<